Ombak tak lagi
menderu. Angin tak jua berhembus. Hati tak lagi merintih, menunggu kamu yang slalu
menggantung. Nada itu tak lagi bersuara. Merintih halus mengukir goresan. Goresan
halus yang terus dan terus membesar. Merobek guratan yang telah terbuka.
Aku bukanlah kamu.
Yang mempermainkan hati layaknya bermain sebuah piano. Menekan tuts tanpa
merasa sedih dan menghujan sepi. Membiarkan usang tak terawat lembut. Bagai aku
yang tak terperhatikan olehmu.
Terabaikan layaknya boneka yang penuh lumpur bernoda kehampaan.
Aku bukanlah kamu.
Yang menghujam harapan menghancurkan impian. Menganggap asa tak kurang dari
kebutuhan. Yang selalu ingin kau nikmati disaat kamu menginginkannya saja.
Cinta itu bukanlah
pasir. Terhempas angin kemudian hilang tak berbekas. Melalang buana di luasnya
dunia. Berputar indah mengelilingi samudera dan tiba-tiba menghilang entah
kemana.
Hadirmu bukanlah
keharusan. Bukan kewajiban yang harus kamu penuhi. Namun, itu hanyalah kepekaan.
Kepekaanmu terhadap rasa sayang yang kau miliki untukku.
Kata-kata indah.
Bukanlah tugas yang harus kau ucapkan setiap waktunya. Bersahutan dengan semua
keromantisan kalimat yang sengaja tersusun untuk membuktikan semua. Melegalkan
rasa yang tertanam namun tak berakar. Cintamu hanya untukku. Itulah yang kau
katakan. Meyakinkan dan selalu terpercaya. Menambah keunggulan yang kau
hadirkan dikehidupanku. Mengubah pandangan yang sempat terlintas dalam kelamnya
dunia khayalku. Kau menghalangi datangnya sinar sahabat yang ingin menerangi,
mengarah dan mengantarkan aku kesebuah ruang yang mampu mencintai. Menyayangi
dan melukis keindahan hati yang setia menyatukan patahan yang retak.
Dan aku tetap
terdiam. Menunggu keajaiban yang akan membawamu kembali padaku. Mengulang semua
masa yang terasa begitu mengagumkan di setiap sudut alam hidupku. Kamulah yang
menciptakannya. Merangkainya. Dan menghiasinya. Kamulah keindahan itu.
Keindahan yang terlalu sulit untuk kembali dan membuatku kembali ke alam itu.
CHYTRA IRNIATI NABA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar